Kamis, 20 Juni 2013

Pengaruh Pengalaman Kanak-kanak Terhadap Kualitas Potensi Remaja

Sahabat Karya Ilmiah Ku, sory yah kalo-kalo isi Karya Ilmiah KU ini banyak sekali kesalahan. baik  dari segi teknis penulisan maupun dari segi pembahasan dan penggunaan bahasa. jadi kalo yang lagi butuh dengan materi ini, jangan langsung COPAS koreksi dulu yah biar gak sesat. tapi semoga membantu yah sahabat Karya Ilmiyah KU.
yuk chekidot.....



KARYA ILMIAH
PENGARUH PENGALAMAN KANAK-KANAK TERHADAP
KUALITAS POTENSI REMAJA
(Sebagai Tunas Penerus Bangsa)





Oleh:
Husni Mubarok : 862010110004




JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU
2013


KATA PENGANTAR
       Alhamdulillah, segala Puji serta Syukur terlantun kan kepada Allah SWT yang telah mencurahkan Rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat mengecap nikmat yang amat besar yaitu kenikmatan berada dalam keimanan. Sholawat serta salam tercurah limpahkan kepada jungjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah mengajarkan kepada kita kejalan yang benar. Dan juga kepada para Shohabatnya, Tabi’in dan Salafushalih yang telah berdakwah menyebarkan risalah islam. Atas berkat rahmat Allah, kami mendapatkan kemudahan dalam penyusunan karya ilmiah ini. Penyelesaian penyusunan karya iliah ini tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua pihak. karenanya  kami ingin menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak  yang telah membantu kami.
       Karya ilmiah ini kami buat serta kami susun berdasarkan kajian pustaka yang kami temukan dari beberapa sumber. Namun demikian, kami menyadari dalam penyusunan karya ilmiah ini tidak menutup kemungkinan masih terdapat kekurangan maupun kejanggalan sehingga karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini di karenakan pengetahuan dan pengalaman  yang  dimilikipun masih sangat terbatas.
Demikian karya ilmiah ini kami buat sebagai pijakan dan evaluasi langkah  kami yang akan datang.  Oleh karena itu, kami ucapkan terimakasih atas saran saran yang diberikan, dan kami menunggu kritik yang konstruktif guna peningkatan mutu dan kemampuan kami.
       Pada akhirnya kami berharap karya ilmiah yang kami buat dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
                                                                                    Indramayu,20 Maret 2013
                                                                                                Penyusun

Halaman



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................  i
DAFTAR ISI ..............................................................................................   ii

BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang ................................................................................   1
1.2     Perumusan Masalah .........................................................................  2
1.3     Tujuan ..............................................................................................  3

BAB 2 : TELAAH PUSTAKA
2.1     Masalah yang Dihadapkan pada Pengalaman Kanak-Kanak ..........  4
2.2     Kualitas Potensi Remaja ..................................................................  9
2.3     Pengaruh Pengalaman Kanak-kanak
Terhadap Kualitas Potensi Remaja .................................................   12
BAB 3 : METODE PENULISAN ..............................................................  14
BAB 4 : ANALISIS DAN SINTESIS .......................................................  15
4.1     Analisis ............................................................................................  15
4.2     Sintesis ............................................................................................   16

BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ...................................  22
5.1     Kesimpulan ......................................................................................  22
5.2     Rekomendasi ...................................................................................  23
Daftar Pustaka .............................................................................................  25
LAMPIRAN


BAB 1
PENDAHULUAN
PENGARUH PENGALAMAN KANAK-KANAK TERHADAP
KUALITAS POTENSI REMAJA
1.1  Latar Belakang
       Remaja adalah sosok yang unik, remaja juga merupakan generasi penerus orangtua. istilah tersebut sering di bicarakan oleh berbagai perbincangan dalam lingkupan pendidikan, media masa maupun elektronik. Bahkan sejak kemunculannya, ilmu pengetahuanpun tidak pernah ketinggalan dalam memperbaharui dan mengembangkan teori-teori yang berkaitan dengan remaja, seperti:
1.      Pendapat yang disampaikan oleh Plato
a.         Anak tidak sama dengan orang dewasa, karena ide-ide anak yang dibawa sejak lahir belum berkembang seperti orang dewasa
b.         Perkembangan sifatnya sangat individual & ditentukan oleh perkembangan rasio (akal), shg Plato menganjurkan dilakukannya pendidikan yang membebaskan rasio untuk berkembang seoptimal mungkin, dengan bimbingan orang dewasa ; mis : membiarkan rasa ingin tahu & antusiasme yang besar pada remaja. Bahkan membiarkan remaja mengkritik orangtua & lingkungan, krn kebutuhan mengkritik & mendebat sangat besar pada remaja dalam rangka mengembangkan rasio & daya berpikir kritis.
2.      Pendapat yang disampaikan Aristoteles.
a.       Tahap-tahap perkembangan jiwa :
a)         Infancy (0-7 th)
b)        Boyhood (7-14 th)
c)         Young manhood (14-21 th)
b.      Pandangan tentang remaja.
Remaja punya hasrat yang sangat kuat dan cenderung berusaha memenuhi semua hasrat-hasrat tsb tanpa membeda-bedakan hasrat yang ada pada tubuh mereka. Hasrat seksual yang paling mendesak, dan dalam hal ini remaja seringkali menunjukkan sifat hilangnya kontrol diri[1].
       Sebagai generasi penerus seharusnya remaja memiliki katangguhan fisik dan psikologis. Namun tidak semua remaja bisa di andalkan sebagai generasi penerus orangtua karena tidak sedikit kasus-kasus kenakalan di alami oleh remaja, terutama mereka yang berada di tahap remaja awal. Tidak sedikit juga prestasi-prestasi diraih oleh remaja. Itulah keunikan remaja, ada yang berprestasi ada juga yang perlu dididik karena kenakalanya. Namun keunikan tersebut tidak semata-mata muncul, itu semua ada yang mempengaruhi. Salah satu yang mempengaruhi dari keunikan tersebut adalah pengalaman kanak-kanak yang berkesinambungan dengan pola asuh orangtua terhadap anak. Berbagai pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak seperti keharmonisan keluarga, perpecahan keluarga, perlakuan kekerasan dan lain sebagianya itu memiliki dampak yang berarti terhadap perkembangan psikologis seorang anak yang akan di rasakan ketika dia menginjak remaja dan dewasa awal.
1.2  Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada karya ilmiah ini adalah :
1.      Masalah apa saja yang di hadapkan pada pengalaman kanak-kanak?
2.      Apakah kualitas potensi remaja itu?
3.      Bagaimanakah pengaruh pengalaman kanak-kanak terhadap kualitas potensi remaja?

1.3  Tujuan
       Sesuai denagn rumusan masalah di atas, maka penyusuanan karya ilmiah ini bertujuan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui Masalah apa saja yang di hadapkan pada pengalaman kanak-kanak.
2.      Untuk mengetahui makna kualitas potensi remaja.
3.      Untuk mendefinisaikan pengaruh pengalaman kanak-kanak terhadap kualitas potensi remaja


BAB 2
TELAAH PUSTAKA
2.1  Masalah yang Dihadapkan pada Pengalaman Kanak-Kanak
       Berbagai tantangan perkembangan baik secara biologis, kognitif, psikologis, dan sosial itu semua bisa menakutkan dan terasa menguasai. Bagaimanapun, banyak anak muda yang siap dan dan cerdas untuk menyelesaikan tugas-tugas yang harus mereka hadapi. Dalam keadaan yang mendukung, dengan dukungan dari orangtua yang menyayangi, dari guru yang mau memahami, dan dari masyarakat luas transisi dari masa remaja akan dapat di lalui dengan cukup mudah, sehingga menghasilkan seorang dewasa yang memiliki kematangan dan mampu menyesauikan diri. Namun dalam kenyataan, patut disayangkan bahwa banyak anak muda yang tidak akan mengalami perjalanan melalui masa muda yang lempang dan tidak banyak masalah. Kesulitan yang mereka alami bisa terkait dengan bermacam faktor, diantaranya yang paling penting adalah kepribadian dan kemampuan mereka untuk mengatasi berbagai kesulitan tersebut. Faktor-faktor lain meliputi pengaruh pengalaman awal masa kanak-kanak, tekanan eksternal atau lingkungan, dan kondisi sosial yang saat itu melingkupinya. Semua faktor ini kadangkala dapat mengganggu kemampuan anak muda untuk melanjutkan perjalanan perkembangannya menuju kematangan dan kedewasaan[2].
       Pada kesempatan ini akan dikaji pengalaman masa kanak-kanak yang jika tidak terselesaikan, bisa mengganggu kemampuan anak muda untuk secara adaptif menyelesaikan tugas-tugas yang di emban remaja. Yang akan di bahas yaitu efek dari masalah dimasa kanak-kanak yang tidak terselesaikan yang terhubung dengan beberapa hal di bawah ini.
1.      Masalah kemelekatan masa kecil
2.      Pengaruh dari orangtua yang tidak membantu
3.      Efek kekerasan
4.      Efek trauma
5.      Efek genetis
1.      Masalah Kemelekatan Masa Kecil
       Istilah kemelekatan, sebagaimana yang digunakan dalam literatur psikologi perkembangan, menggambarkan kecenderungan seorang anak untuk terus menerus mencari kedekatan dengan seorang tertentu, biasanya dengan ibunya, dalam rangka mengurangi ketegangan internal. Kemelekatan adalah ikatan afeksional kekal yang memiliki suatu fungsi biologis vital yang sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup dan bahwa hubungan antara seorang anak dan figuran kemelekatan menyediakan suatu fondasi kukuh yang akan digunakannya untuk mengeksplorasi dan menguasai dunia.
       Bagaimanapun, beberapa anak kecil tidak memiliki kesempatan untuk membentuk kemelekatan yang kuat dengan seseorang. Mereka juga bisa jadi memiliki orangtua yang tidak memerhatikan mereka atau sering melakukan kekerasan kepada mereka; berada dalam pengasuhan rumahsakit yang memisahkan mereka dari orangtua; kehilangan orangtua karena sakit keras, kecelakaan atau perang; berulang-ulang mengalami peristiwa yang membuat mereka trauma, sehingga mencegah terbentuknya kemelekatan yang kuat. Sebagai akibatnya, anak-anak ini akan cenderung mendapat apa yang dikenal sebagai gangguan kemelekatan yang dapat memberikan dampak serius pada mereka.
       Kemelekatan yang dikembangkan seorang anak dengan pemberi perhatian utama akan berpengaruh pada perkembangan anak tersebut sepanjang hidupnya. Anak muda yang memiliki pengalaman kemelekatan yang relatif kuat akan lebih sedikit dan tidak terlalu stres dalam pengalamannya disekolah dan tidak akan terlalu tertekan dengan berbagai kejadian di perguruan tinggi dibanding dengan anak yang kurang memiliki kemelekatan yang kuat. Mereka juga akan menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi. Kemelekatan terhadap orangtua juga diketahui memiliki pengaruh yang besar terhadap citra diri, terutama berkenaan dengan beberapa aspek yang menjadi sangat penting bagi mereka semasa remaja, seperti gambaran fisik, sasaran pekerjaan, dan seksualitas[3].
       Kemelekatan pada masa kanak-kanak dengan pemberi perhatian utama tampaknya akan berpengaruh terhadap banyak pengalaman seorang anak muda menghadapi situasi-situasi yang berpotensi menyebabkan stres. Kemelekatan rapuh atau tidak memuaskan selama masa kanak-kanak telah dihubungkan dengan berbagai penyalahgunaan obat-obatan di kemudian hari (Gerevich dan Bacskai, 1996; Burge, dkk., 1997)[4], gangguan makan (Burge, dkk., 1997; Salzman, 1997)[5], aktivitas seksual dini dan prilaku seksual beresiko tinggi, dan citra diri yang rendah (O’Koon, 1997)[6]. Telah diketahui bahwa gangguan kecemasan cenderung terjadi pada anak muda yang memiliki kemelekatan yang menggelisahkan terhadap orangtuanya sendiri semawsa bayi ketika dibandingkan dengan mereka yang memiliki kemelekatan yang kuat (Warren, dkk., 1997)[7].
2.      Pengaruh Prilaku Orangtua yang Tidak Membantu
       Dalam masa serba materi ini persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup terasa semakin bertambah. Akibatnya, kesibukan setiap orang juga semakin bertambah. Pada pagi hari, mereka sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja dan kelelahan pada sore hari sepulang kerja. Bahkan kini juga ada kecenderungan suami istri bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sehari-hari. Akibat perubahan gaya hidup ini, waktu untuk berkomunikasi dalam keluarga, termasuk komunikasi antara orangtua dan anak, menjadi kurang diperhatikan. Anak kebanyakan hanya bertemu orangtua pada pagi hari ketika akan berangkat sekolah dan malam hari menjelang tidur. Sepanjang hari di rumah, anak hanya bersama dengan pembantu dan pengasuh yang akan memberikan pengarahan sesuai dengan kemampuan mereka, tentunya[8].
       Adalah jelas untuk mengatakan bahwa orangtua memiliki dampak besar atas perkembangan seorang anak kecil atau anak muda. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui bahwa meskipun banyak anak kecil yang memiliki orangtua kompeten tumbuh untuk menghadapi tantangan pada masa remaja secara sukse, banyak lainnya yang tidak demikian. Penting juga diketahui bahwa ketika orangtua memberi prioritas terhadap kebutuhan mereka sendiri tanpa memberika pertimbangan yang memadai terhadap kebutuha anak-anak mereka, sistem keluarga akan menjadi berhenti berfungsi (Neu-mark-Sztainer, dkk., 1997)[9] dan, sebagai konsekuensinya, akan terkena bermacam dampaknya.
       Prilaku agresif dan anti-sosial sering bermula pada awal masa kanak-kanak. Beberapa orangtua memiliki prilaku yang tidak bisa diterima di masyarakat, yang mengakibatkan kerusakan pada anak-anak mereka. Namun, patut disayangkan bahwa ketika orangtua melakukan tidakan maladaptif dan anti-sosial, mereka meningkatkan kemungkinan bahwa anak mereka akan melakukan tindakan serupa (Kazdin, 1985)[10]. Sebagaimana sering kali dipertunjukan, prilaku kriminal dan adiksi terhadap alkohol pada orangtua, tertutama ayah, terkait denga prilaku anti-sosial pada anak muda (West, 1982)[11]. Dengan demikian sikap tidak bertanggung jawab yang dipraktikkan orangtua akan menghasilkan prilaku agresif dan anti-sosial yang diturunkan secara turun temurun dalam sebuah keluarga[12].


3.      Efek Kekerasan
       Ketika anak-anak mendapat kekerasan akan timbul bermacam konsekuensi emosional dan psikologis bagi mereka pada saat perlakuan kasar tersebut terjadi dan juga dikemudian hari ketika mereka menginjak masa remaja. Efek kekerasan secara emosional dan psikologis hampir dapat dipastikan berakibat pada berkembangnya berbagai prilaku maladaptif, kecuali anak atau anak muda yang bersangkutan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyulitkannya secara memuaskan.
4.      Efek Trauma
       Kebanyak penelitian tentang gangguan stres pasca-trauma (Post-Traumatic Stress Disorder)[13] telah mencari perawatan gangguan stres pada orang dewasa daripada anak-anak. Laporan mengenai respons anak-anak pada peristiwa-peristiwa traumatis mengindikasikan bahwa respons tersebut memiliki kemiripan dengan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma orang dewasa. Beberapa penelitian terkini tentang gangguan stres ini pada anak-anak telah meneliti pada anak-anak yang rawan terhadap bencana alam  (Fredrick, 1985;Earls, dkk., 1986)[14], bencana disebabkan oleh manusia (Hardford, dkk., 1986)[15], trauma yang berkaitan dengan perang (Arroyo dan Eth, 1985)[16], kejahatan dengan kekerasan ( Nader, dkk., 1990)[17], dan trauma yang terkait dengan prosedur medis (Stoddard, dkk., 1989)[18]. Trauma dari semua studi ini mendukung validitas adanya gangguan gangguan stres pasca-trauma pada anak-anak ketika peristiwa yang traumatis mengakibatkan luka pada anak atau cedera atau kematian orang lain yang berarti baginya.

       Salah satu bentuk trauma umum dialami anak-anak pada masa kini adalah kekerasan dalam rumah tangga. Biasanya, ketika kekerasan dalam rumah tangga terjadi akan terdapat cedera dan kadang kematian pada orang dewasa, anak muda, atau anak-anak dirumah tersebut. Bahkan, ketika anak-anak tidak secara khusus menjadi korban, mereka akan mengalami trauma karena menyaksikan terjadinya kekerasan tersebut dan akan mengalami stres pasca-trauma.
5.      Efek Genetis
       Selain efek pengalaman hidup, terdapat juga kecenderungan genetis pada gangguan psikologis maupun behavioral pada tahap remaja. D. Comings (1997) mengkaji bukti untuk mendukung konsep bahwa prilaku mengganggu pada kanak-kanak ataupun anak muda, termasuk ADHD, Tourette’s Syndrome, ketidakmampuan belajar, penyalahgunaan zat terlarang, gangguan kepenentingan berlawanan, dan gangguan perilaku, merupakan suatu spektrum prilaku yang saling terkait dan memiliki komponen genetis yang kuat. Comings (1997) juga menyatakan bahwa berbagai komponen genetis dari semua gangguan ini memiliki gen-gen sama yang memengaruhi dopamin, seratorin, dan neurotrasmier lainya[19].
2.2  Kualitas Potensi Remaja
       Potensi merupakan modal, benih atau bibit berharga yang ada dalam diri manusia termasuk remaja[20].
a.       Pengertian Remaja
       Remaja (Addescense) berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja). Dalam islam kalimat remaja beasal dari murahaqoh (dekat), mendekati kamatangan secara fisik, akal dan jiwa serta sosial. Secara psikologis masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingakatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
       Salah satu fase yang menjadi topik yang selalu menarik untuk dibahas adalah masa remaja. Suatu masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa dengan rentang umur antara 12–22 tahun (Mappiare, 1982)[21]. Perkembangan dan pertumbuhan remaja secara biologis, fisiologis. psikologis maupun intelektual sangat mempengaruhi keberhasilan remaja dalam memasuki tahap berikutnya, yaitu masa dewasa.
       Banyak sekali para ahli atau kalangan- kalangan tertentu yang berpendapaat tentang remaja. Karena menurut saya masa remaja merupakan masa yang unik, penuh teka-teki , dilematis dan sangat rentan. Unik karena pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga kerakter mereka berbeda-beda. Penuh teka-teki karena kepribadian mereka susah ditebak. Dilematis karena masanya merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju usia dewasa sehingga cenderung coba-coba. Dan sangat rentan karena selalu berorientasi pad popularitas secara menggila dan instan.
       Remaja adalah generasi muda yang memiliki kekuatan, potensi, dan idealisme yang tinggi, apabila dikelola dengan baik akan menjadi suatu modal dasar dan aset bangsa. Namun, dalam perjalanan sering dijumpai masalah yang mengganggu dan merusak perkembangan remaja. Sementara itu arus globalisasi dan perkembangan  teknologi informasi  memberikan dampak negatif sehingga terjadi  pergeseran nilai. Makin deras perubahan sosial yang terjadi dan makin kompleksnya keadaan masyarakat akan mendorong peningkatan kenakalan remaja, baik secara kualitas maupun kuantitas.
       Remaja sebagai manusia berpotensi“Remaja”. Kata itu menurut remaja sendiri adalah kelompok minoritas yang punya warna tersendiri, yang punya “dunia” tersendiri yang sukar dijamah oleh orang  tua.Sekarang  kelompok remaja adalah manusia yang mempunyai potensi. Remaja kelompok yang mempunyai vitalitas, semangat priorita, harapan penerus generasi. Generasi muda diarahkan  untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur. Untuk itu perlu diciptakan iklim yang sehat sehingga memungkinkan kreativitas generasi muda berkembang secara wajar dan bertanggung jawab. Segi pendekatannya melalui pendidikan formal, non formal, atau pun informal; di luar maupun di dalam sekolah. Sebagai contoh kecil usaha melibatkan generasi muda dalam pembangunan adalah pengikutsertaan masa remaja dalam pendidikan politik yang kongkritnya nampak dilakukan dalam banyak kegiatan kampanye pemilu 1982[22].
b.      Pengertian Potensi
       Potensi adalah kemampuan, kesanggupan, kekuatan yang mempunyai kemungkinan untuk di kembangkan[23]. Upaya-upaya menumbuhkan potensi remaja, diantaranya :
1)      Upaya menumbuhkembangkan fisik remaja
2)      Upaya menumbuhkembangkan moral remaja
3)      Upaya menumbuhkembangkan Bakat remaja
4)      Upaya menumbuhkembangkan kemandirian remaja
5)      Upaya menumbuhkembangkan bahasa remaja
6)      Upaya menumbuhkembangkan kebutuhan remaja
7)      Upaya menumbuhkembangkan tugas-tugas remaja
8)      Upaya menumbuhkembangkan penyesuaian dari remaja



2.3  Pengaruh Pengalaman Kanak-kanak Terhadap Kualitas Potensi Remaja
       Dari sekian banyak teori yang sudah di paparkan, pengaruh yang muncul pada potensi remaja dari pengalaman masa kanak-kanak, sangat dominan dari faktor internal dan eksternal, namun dalam pembahasan disini lebih mengacu pada faktor eksternal. Pengaruh terbesar terhadap baik atau buruknya kualitas potensi seorang remaja, adalah dipengaruhi oleh kestabilan dalam pengembangan emosional sejak kanak-kanak. Pengalaman yang menyakitkan baik secara fisik ataupun mental, akan memiliki pengaruh yang buruk pada kelangsungan psikologis seorang remaja. Semisal, kekerasan seksual yang saat ini masih menjadi topik pembicaraan baik awak media elektronik, cetak maupun dikalangan pendidikan.
       Berbagai studi tentang efek jangka panjang kekerasan seksual mengungkapkan bahwa, sebagian orang dewasa, korban kekerasan semacam ini cenderung mengalami masalah kesehatan mental tingkat tinggi, seperti depresi, gangguan kecemasan, penyalahgunaan obat-obatan, disfungsi seksual, dan kesulitan dalam hubungan interpersonal (Browne dan Finkelhor, 1986)[24].
       M. Gernefski dan R. Diekstra (1996)[25] menemukan bahwa anak laki-laki yang mengalami kekerasan seksual lebih memiliki masalah emosional dan behavioral, termasuk prilaku bunuh diri, daripada korban anak perempuan. Penelitian mereka mengindikasikan kemungkinan adanya perbedaan gender dalam cara anak muda merespon kekersan seksual yang mereka alami. Remaja perempuan yang menjadi kornban kekerasn seksual cenderung memiliki perasaan inferior atau rasa jijik terhadap feminimitas atau seksualitas mereka sendiri[26].
       Maka dari itu, begitu besar pengaruh pengalaman kanak-kanak pada pribadi seorang remaja, yang secara otomatis itu semua memiliki dampak juga pada kelangsungan potensi seorang remaja.
BAB 3
METODE PENULISAN
       Metode penulisan yang digunakan adalah metode penulisan studi pustaka dan metode penulisan studi lapangan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara mempelajari teori yang sudah ada pada buku-buku referensi yang telah di sajikan oleh perpustakaan pribadi dan menganalisis setiap prosedur yang terdapat pada buku-buku tersebut mengenai kaitannya dengan isi karya imiah ini yang dalam hal ini membahas mengenai Pengaruh Pengalaman Kanak-kanak terhadap Kualitas Potensi Remaja (Sebagai Tunas Penerus Bangsa). Selain dari beberapa sumber referensi buku, kami juga mengambil informasi dari berbagai media baik elektroneik maupun cetak yang sebelumnya pernah kami dengar dan kami baca. Banyak sekali serapan informasi yang di dapatkan yang kami gunakan sebagai bahan kajian dalam karya ilmiah ini, dengan harapan karya ilmiah ini lebih beragam dan bernuansa modern.
       Selain metode penulisan studi pustaka, kami juga menggunakan metode penulisan studi lapangan, sebenarnya metode ini telah kami lakukan jauh sebelum mendapatkan informasi mengenai sleksi karya ilmiah ini. Adapun tehnik dan cara dalam pengumpulan data pada metode ini adalah dengan tehnik observasi dan wawancara. Yang memang hanya beberapa sumber yang kami jadikan sebagi objek, tapi itu cukup membuat karya ilmiah ini semakin beragam.
       Analisis yang kami lakukan, sesuai dengan teori yang ada pada beberapa sumber referensi dan kami berusaha untuk tidak melenceng pada pembahasan, kendatipun demikian masih ada bebereapa pembahasan yang harus kami bahas yang memang tidak dominan pada pembahasan ini, namun itu tetap masih memiliki kaitan dengan pembahasan utama.
Kesimpulan yang kami ambil, tidak melenceng dari perumusan masalah, sehingga pembaca tidak akan kesulitan dalam menyerap inti dari isi karya ilmiah ini.
BAB 4
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1  Analisis
       Beberapa faktor yang memengaruhi kualitas potensi remaja tidak jauh-jauh dari pola asuh orang tua terhadap anak-anak meski ada beberapa faktor yang mungkin saja terjadi di luar kendali orang tua, namun secara keseluruhan itu berinduk pada pola asuh orang tua. Banyak sekali orang tua yang kurang memperhatikan bagaimana pola asuh yang ia terapkan kepada anak-anaknya sehingga menyebabkan munculnya masalah baik untuk orang tua, maupun bagi anak.
       Remaja sebagai pribadi yang unik, memiliki tugas yang sangat besar untuk kemajuan sebuah negara. dengan pribadinya yang unik, dan kualitas stamina yang masih sangat bisa di andalkan, remaja memiliki peran penting dalam setiap perubahan yang di harapkan sebuah negara. salah satu hal penting yang harus di bina dan di latih oleh remaja adalah potensi, meski telah dikatakan bahwa ada remaja yang berhasil mengembangkan potensinya, namun ada juga remaja yang kurang berhasil dalam mengembangkan potensinya tersebut, itu semua di pengaruhi oleh usaha dan dorongan pribadi seorang remaja itu sendiri. Baik buruknya pribadi seorang remaja, di pengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanaknya yang melatar belakangi itu semua adalah berbagai kejadian yang pernah dia alami atau dia saksikan. Peristiwa-peristiwa semacam itu memiliki dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan pribadi seorang remaja dan itu semua akan memengaruhi bagaimana dia bisa menjalankan tugasnya sebagai remaja.
       Bila kita perhatikan, kebanyakan dari masyarakat kita salah kaprah dalam pelaksanaan pola asuh anak, kekerasan dalam mengasuh anak masih menjuarai konsensus keluarga indonesia sehingga wajar saja apabila kualitas pribadi remaja sangat kurang baik, banyak terjadinya penganiayaan sesama teman, tawuran antar mahasiswa dan antar pelajar, banyak sekali terjadinya bulliying dan jenis kekerasan lainnya yang sudah menjadi rahasia umum jika kita membahasnya, itu semua tidak semena muncul pribadi semacam itu jika tidak adanya pengalaman dimasa lalu yang kurang baik baik kelangsungan tugas perkembangan seorang anak.
4.2  Sintesis
       Kajian teori mengenai remaja, telah di sampaikan oleh Platto  yang menyebutkan bahwa anak tidak sama dengan orang dewasa, karena ide-ide anak yang dibawa sejak lahir belum berkembang seperti orang dewasa[27]. Sedangkan jika kita menilik pendapat Aristoteles mengenai remaja, beliau menyebutkan bahwa Remaja punya hasrat yang sangat kuat dan cenderung berusaha memenuhi semua hasrat-hasrat tersebut tanpa membeda-bedakan hasrat yang ada pada tubuh mereka. Hasrat seksual yang paling mendesak, dan dalam hal ini remaja seringkali menunjukkan sifat hilangnya kontrol diri[28]. Orang dewasa cenderung memiliki nilai banding setiap ide dan kontrol pengetahuannya dengan menganalisis kemampuan yang dia miliki dan pengetahuan yang ia sebelumnya dapatkan serta menganalisis kondisi realita yang ada. beda dengan anak-anak, yang cenderung bertindak lebih lurus dan tetap karena ide-ide yang dia miliki belum cenderung ada pengaruh dari luar melaikan masih melekat pada ide bawaan sejak ia lahir. Itu semua memiliki kajian yang sama dengan remaja dimana remaja memiliki nilai banding yang setara dengan remaja. Remaja cenderung bertindak mengikuti hasrat dan kemauannya tanpa memikirkan akibat yang terjadi setelah melakukannya. Oleh karenanya remaja sangat rentaan sekali dengan tindakan yang kurang menyenangkan bagi orang lain dan cenderung merugikan dirinya sendiri.
       Kajian teori Platto dan Aristoteles menggambarkan seberapa besar pengaruh yang terjadi pada remaja dari kejadaian waktu anak-anak yang pernah di lakukan atau di saksikannya. Jadi, remaja adalah bukan orang dewasa, remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju tugas perkembangan selanjutanya yang di sebut remaja yang pada tugas perkembangan tersebut masih dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanak.
       Kajian mengenai pengalaman masa kanak-kanak yang jika tidak terselesaikan, bisa mengganggu kemampuan anak muda, memiliki peranan penting bagi kalangan masyarakat terutama para remaja dan para orangtua. Banyak sekali di sebutkan mengenai pengalaman tidak baik yang di alami anak-anak yang cenderung memiliki pengaruh besar terhadap kelangsungan tugas perkembangan seseorang, beberapa masalah yang telah di sebutkan pada kajian teori yaitu:
1.      Masalah kemelekatan masa kecil
       Kemelekatan atau biasa di sapa oleh masyarakat indonesia dengan sebutan apet memiliki dampak yang berarti terhadap pribadi remaja, peran dan fungsi orangtua dalam kemelekatan ini sangat identik dengan keharmonisan sebuah keluarga. Pengakuan yang muncul dari beberapa remaja yang pernah di teliti sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan orangtua dalam membawa suasana damai dikeluarganya itu memiliki dampak yang berarti terhadap kelangsungan belajar baik di sekolah ataupun di rumah. Jadi secara otomatis itu mempengaruhi efektifitas pengembangan potensi remaja.
2.      Pengaruh dari orangtua yang tidak membantu
       Pernah dikatakan bahwa orangtua adalah media belajar pertama yang di miliki oleh seorang anak, oleh karenananya bantuan orang tua dalam pengembangan potensi memiliki pengaruh yang sangat besar. Sekarang masih menjuarai di kalangan masyarakat indonesia, tentang pengasuhan anak yang tidak langsung dilakuka oleh orangtuanya melankan oleh pembantu atau babysister dan tidak hanya itu, indonesia jugamasih menjuarai dalam hal pengiriman jasa tenaga kerja indonesia dan tenaga kerja wanita, yang itu semua memiliki peranan yang sama, banyak sekali anak yang terlantarkan karena orangtua yang seharusnya mengasuh kini harus terpisah, makanya banyak sekali anak-anak kita yang kehilangan kasih sayang orangtuanya dan lebih memilih merefleksikan diri kepada hal yang salah bahkan banyak yang sampai ke rananah hukum.
3.      Efek kekerasan
       Kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi salah satu juara yang dimiliki oleh indonesia, sering sekali anak-anak kita menjadi korban kekerasan oleh orangtuanya sendiri atau sekedar menyaksikan kekersan itu, kekersan yang di hadapi oleh anak-anak kita akan membentuk pribadi yang keras dan tidak bertanggung jawab. Dapat kita bedakan pribadi orang pesisir dengan pribadi orang pegunungan, orang pesisir cenderung memiliki watak yang kasar dan cenderung memiliki nada bicara yang lantang, lain dengan orang yang berada di daerah pegunungan mereka lebih cederung memiliki watak yang lebih halus dan pola bicara yang cenderung melambai. Itu semua memiliki pengaruh yang berati terharadap kelangsungan tugas perkembangan seorang remaja. Dari analogi di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa seorang anak yang berada pada lingkungan keluarga yang kasar, maka cenderung akan membentuk pribadi yang kasar, lain dengan anak yang berada pada lingkungan keluarga yang harmonis dia akan menjadi pribadi yang lembut dan cenderung penyayang. Dari pernyataan tersebut, mengembalikan kita pada teori perkembangan psikologis, bahwa yang mempengaruhi pribadi seseorang yaitu di pengaruhi oleh lingkungan dan keturunan.
4.      Efek trauma
       Trauma merupakan salah satu dari gangguan psikologis, yang didalamnya bisa disebebkan oleh beberapa gangguan yaitu:
1.      Gangguan Kecemasan
       Dalam kehidupan sehari-hari, orang ternyata menemui kesulitan dalam memberikan suatu dikotomi yang jelas dan tepat antara kecemasan dan ketakutan. Rasa cemas selalu dicampur adukan dengan rasa takut. Seringkali orang yang cemas justru dia mengatakan takut; dan sebaliknya, orang yang merasa takut justru mengungkapkannya bahwa dia cemas. Mana sebetulnya yang tepat? Yang jelas adalah bahwa antara rasa cemas dan rasa takut terdapat hubungan yang sangat erat sehingga suit untuk membedakan mana yang seharusnya rasa cemas dan mana sesungguhnya ras takut[29].
2.      Gangguan Fobia
       James Drever (1988)[30] mengartikan fobia sebagai ketakutan pada suatu objek atau keadaan yang tidak dapat dikendalikan, yang biasanya disertai dengan rasa sakit yang perlu diobati. Pendapat lain menyebut fobia sebagai rasa takut terhadap hal-hal yang dianggap mengancam”. Misalnya, rasa takut pada tempat-tempat yang tinggi letaknya. Supratikanya (1995)[31] menjelaskan fobia sebagi perasaan takut yang bersifat menetap terhadap objek atau situasi tertentu yang sesungguhnya tidak menimbulkan ancaman nyata bagi yang bersangkutan atau yang bahayanya terlalu dibesar-besarkan[32].
3.      Gangguan komplusif-obsesif
       Gangguan komplusif-obsesif yaitu penderita berulang-ulang memikirkan pemikiran yang mengganggu atau merasa terpaksa berulang-ulang melakukan beberapa tindakan yang tidak penting, dorongan komplusif, atau keduanya, Menurut Colhoun dan Acocella (1990) pikiran obsesif sering bersifat mengeruhkan[33]. Sebagai contoh seorang remaja berulangkali membayangkan penusukan yang pernah dia lakukan pada temannya, sebaliknya dorongan komplusif cendrung berpusat disekitar kewajiban dan peringatan. Dua dari komplusif paling umum adalah bisa jadi dia akan mencuci tangannya berulangkali dan sering mengumpat dalam kamar dengan mengunci pintu kamar dan seluruh akses yang bisa memasukan orang kedalam rumah.
5.      Efek Genetis
       Genetis juga memiliki pengaruh yang besar terhadap tumbuh kualitas potensi remaja, banyak orangtua yang mengirimkan akankya kepada pesantren atau islamic boarding school yaitu sebagai usaha pencegahan karakter yang sudah melekat pada orangtua akan menempel pada anak-anaknya, meski demikian efek genetis tetap berperan dalam perkembangan potensi anak.
       Dari beberapa gangguan tersebut, dapat dianalisis bahwa gangguan-gangguan tersebut adalah memiliki efek yang berarti pada kelangsungan perkembangan potensi seseorang.
       Setelah kajian teori mengenai masalah yang dihadapi pada anak-anak, sekarang saaatnya untuk mengkaji teori mengenai remaja dan kualitas potensi remaja.
       Secara psikologis masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingakatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak[34]. Oleh karenanya banyak sekali kesenjanga yang terjadi pada remaja, seperti prilaku menyimpang akibat tidak tercapainya kemauan, pendapat dan harapan dia.
       Potensi adalah kemampuan, kesanggupan, kekuatan yang mempunyai kemungkinan untuk di kembangkan[35]. Setiap manusia dilahirkan kedudia diberi potensi yang sama, meski pada kenyataannya ada manusia yang pintar dan ada manusia yang biasa-biasa saja. Itu semua tergantung dari bagaimana dia mengembangkan potensinya itu, ada ada manusia yang kerap mengembangkan potesninya, namun ada juga manusia yang cenderung masa bodoh terhadap potensi yang dimilikinya, itu pula yng membedakan manusia itu dalam tingkatan derajatnya.


BAB 5
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.         Kesimpulan
1.      Masalah yang dihadapkan pada pengalaman kanak-kanak meliputi:
1)        Masalah kemelekatan masa kecil
2)        Pengaruh dari orangtua yang tidak membantu
3)        Efek kekerasan
4)        Efek trauma
5)        Efek genetis
2.      Kualitas potensi remaja yaitu standar mutu dari sebuah potensi yang meliputi kemampuan, kesanggupan, kekuatan yang mempunyai kemungkinan untuk di kembangkan. Adapun upaya-upaya menumbuhkan kualitas potensi remaja, diantaranya :
1)        Upaya menumbuhkembangkan fisik remaja
2)        Upaya menumbuhkembangkan moral remaja
3)        Upaya menumbuhkembangkan Bakat remaja
4)        Upaya menumbuhkembangkan kemandirian remaja
5)        Upaya menumbuhkembangkan bahasa remaja
6)        Upaya menumbuhkembangkan kebutuhan remaja
7)        Upaya menumbuhkembangkan tugas-tugas remaja
8)        Upaya menumbuhkembangkan penyesuaian dari remaja
3.      pengaruh pengalaman kanak-kanak terhadap kualitas potensi remaja?
       Pengaruh terbesar terhadap baik atau buruknya kualitas potensi seorang remaja, adalah dipengaruhi oleh kestabilan dalam pengembangan emosional sejak kanak-kanak. Pengalaman yang menyakitkan baik secara fisik ataupun mental, akan memiliki pengaruh yang buruk pada kelangsungan psikologis seorang remaja. Semisal, kekerasan seksual yang saat ini masih menjadi topik pembicaraan baik awak media elektronik, cetak maupun dikalangan pendidikan.
       Maka dari itu, begitu besar pengaruh pengalaman kanak-kanak pada pribadi seorang remaja, yang secara otomatis itu semua memiliki dampak juga pada kelangsungan potensi seorang remaja.
b.        Rekomendasi
       Berdasarkan  hasil  penelitian dan kajian pustaka  yang  penulis  lakukan  berbagai  pandangan   yang  kiranya  merupakan    rekomendasi  yang  mudah-mudahan  ada  manfaatnya   bagi para orangtua dan remaja indonesia, khususnya dalam hal pola asuh yang dipakai dan motivasi pengembangan potensi terpendam yang dimiliki remaja  dan segala sesuatu yang berhubungan dengan  hal itu.
1.      Para Orangtua
a.         Lebih memperhatikan pola asuh anak sebagai media belajar pertama dan paling berpengaruh bagi anak-anak.
b.         Lebih memahami kondisi psikologis anak dan tugas perkembangannya
2.      Bagi remaja
a.         Berusaha lebih menggali potensi diri dengan cara konsultasi kepada konselor atau psikolog sehingga dapat diketahui jika terdapat traumatik dari pengalaman kanak-kanak yang menyebabkan menurunnya kualitas potensi diri.
b.         Berusaha untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai dasar dari nilai mutu potensi penerus bangsa yang beriman dan bertaqwa.
3.      Bagi peneliti berikutnya
a.         Menambah teori yang sudah ada sehingga kajian karya ilmiah lebih beragam dan mendasar.
b.         Melakukan  observasi  lebih  dari  jenis  observasi  moderat,  untuk  lebih   mengetahui  seluruh  permasalahan mengenai hubungan anak dengan orangtua.


DAFTAR PUSTAKA
Terj. Konseling Remaja Pendekatan Proaktif untuk Anak Muda, Kathryn Geldard dan David Geldard, Yogyakarta: Pustaka belajar, 2011

Asbar Yadi. Yang kamu bisa berharga. Penerbit hikmah, Jakarta:  PT Mizan Publika, 2006

Alex Sobur, Psikologi Umum dalam lintas sejarah, Bandung: pustaka setia, 2003







[2] Terj. Konseling Remaja Pendekatan Proaktif untuk Anak Muda, Kathryn Geldard dan David Geldard, (Yogyakarta: Pustaka belajar,2011) h.30-31
[3] Ibid; h. 31-32
[4] Ibid; h. 33
[5] Ibid; h. 33
[6] Ibid; h. 33
[7] Ibid; h. 33
[9] Terj. Konseling Remaja Pendekatan Proaktif untuk Anak Muda, Kathryn Geldard dan David Geldard, h. 33-34
[10] Ibid; h. 35
[11] Ibid; h. 35
[12] Ibid; h. 35
[13] Ibid; h. 43
[14] Ibid; h. 43
[15] Ibid; h. 43
[16] Ibid; h. 43
[17] Ibid; h. 43
[18] Ibid; h. 43
[19] Ibid; h. 47
[20] Yadi Asbar. Yang kamu bisa berharga. Penerbit hikmah (Jakarta:  PT Mizan Publika, 2006) h.43
[24] Terj. Konseling Remaja Pendekatan Proaktif untuk Anak Muda, Kathryn Geldard dan David Geldard, h. 41
[25] Ibid; h. 41
[26] Ibid; h. 41
[28] Ibid; 21:19. 19.03.2013
[29] Drs. Alex Sobur, M.Si.Psikologi Umum dalam lintas sejarah. (Bandung: pustaka setia, 2003) hal. 344
[30] Ibid; h. 347
[31] Ibid; h. 347
[32] Ibid; h. 347
[33] Ibid; h. 347
[35] Ibid. 2:15 20.03.2013

semoga membantu............................... :) salam Karya Ilmiyah KU

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Label